Lima Alasan harus menghindari KP rumah Bank Konvesional

Lima alasan Mengapa kita harus menghindari Kredit Kepemilikan Rumah menggunakan Bank Konvesional


Rumah syariah tanpa BI checking

Bagi anda yang sedang merindukan rumah idaman, tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah KPR (Kredit Kepemilikan Rumah). Karena memang kredit kepemilikan rumah ini merupakan alternatif pilihan didalam membeli rumah. KPR ini banyak diminati dan menjadi solusi bagi siapa saja yang yang ingin membeli rumah untuk tempat tinggal atau sekedar berinvetasi tetapi belum mampu untuk membeli secara cash/tunai.
Coba kita perhatikan disetiap daerah, hampir disetiap jalan besar terdapat spanduk-spanduk penawaran rumah beserta bunga KPR yang menyertainya. Bahkan, para developer berlomba-lomba menampilkan dengan iming-iming bunga yang ringan, padahal Bunga Bank itu termasuk dalam Riba.

Namun, tahukah
anda untuk mengambil KPR bank itu terdapat kelemahan dan cukup merugikan.
Setidaknya terdapat 5 hal yang membuat tidak nyaman bahkan merugi apabila memutuskan untuk mengambil rumah melalui KPR Konvensional.

1. Proses BI Checking yang cukup rumit serta melelahkan

BI Checking merupakan tahap awal jika ingin mengajukan Kredit kepemilikan rumah ke bank. Pada tahap awal ini saja, prosesnya dapat memakan waktu hingga berminggu-minggu. Bank terlebih dahulu akan memverifikasi data-data yang diberikan oleh nasabah secara mendalam.
Bagi anda yang berprofesi sebagai pegawai tetap barangkali hal ini tidak terlalu menjadi persoalan, tentu diimbangai dengan kesesuaian salary anda pada saat itu. Tetapi, bagaimana dengan saudara kita yang lain?
Bagi saudara-saudara lainnya yang memiliki profesi sebagai wirausaha
wan baik itu usaha mikro ataupun pedagang, barangkali memiliki rumah melalui cara biasa sangatlah sulit, karena adanya BI Checking yang memang syaratnya cukup ribet dan sulit, Seperti izin-izin usaha, laporan keuangan yang mendalam, serta aliran kas usaha yang stabil. Minimal terdapat laporan keuangan selama 1-2 tahun, dll.
Jika tidak berhasil memenuhi salah satu kriteria atau syarat tersebut, maka pengajuan ditolak. Dan impian memiliki rumah harus dikubur dalam-dalam.

2. Denda keterlambatan membuat biaya yang dikeluarkan menjadi membengkak

Setelah tahap awal BI checking sudah dinyatakan ok dan pengajuan KPR Bank Konvensional diterima, tahapan selanjutnya adalah mencicil. Pada tahpan ini kita tidak boleh terlambat membayar cicilan meski hanya sehari saja. Dan apabila terlambat, maka akan dikenakan DENDA yang nilainya bervariasi bergantung kebijakan bank yang menyediakan fasilitas KPR. Pada umumnya, denda dikenakan per hari keterlambatan.
Tentu hal ini membuat biaya yang dikeluarkan untuk memiliki rumah tersebut menjadi semakin tinggi dan tidak dapat diprediksi, karena tidak adanya toleransi terhadap keterlambatan tersebut, walaupun kondisi keuangan keluarga sedang sulit.


3. Teror Debt Collector yang siap menghantui bila telat membayar selama beberapa bulan

Ketika sudah tidak mempu membayar cicilan dikarenakan alasan apapun, maka bersiap-siaplah menghadapi para debt collector yang memang disewa oleh pihak bank dengan tujuan agar nasabah segera membayar cicilan yang tertunggak. Pada kasus ini debt collector diberi wewenang menggunakan berbagai macam cara agar nasabah merasa terpojok, tidak nyaman, terancam serta takut apabila menunda pembayaran lebih lanjut lagi.
Terkadang hal yang melampaui batas seperti pengancaman, pemukulan dan perampasan bisa terjadi. Bukan hanya dalam KPR, tetapi dalam pembelian motor leasing pun begitu. Betul?
Barangkali anda sekalian merasa berani untuk menghadapi teror dari debt collector tersebut, tetapi coba bayangkan apabila yang menghadapi adalah anak, istri atau orang tua anda yang sedang berada di rumah. Apakah mereka merasa aman, nyaman serta tentram untuk tinggal di rumah tersebut? LEBIH BAIK NGONTRAK BETUL?


4. Resiko Sita jika gagal bayar

Jika anda sebagai nasabah tidak mampu melanjutkan angsuran dengan alasan apapun, maka bersiap-siaplah untuk mengosongkan rumah. Memang mau tidak mau rumah harus diserahkan kembali ke pihak bank atau dirampas oleh pihak bank. Dimana bank tersebut masih memiliki hak penuh terhadap rumah tersebut. Rumah akan disita dan lalu akan dilelang. Besaran nilai lelang pun bank yang akan menentukan. Nilainya haruslah menutupi kekurangan cicilan nasabah. (Biasanya di lelang jauh di bawah harga pasar agar cepat terjual).
Lalu, anda sebagai nasabah yang telah mencicil selama tahunan atau puluhan tahun hanya dapat duduk terpaku penuh nestapa meratapi hilangnya aset disertai dengan kesia-siaan membayar cicilan selama ini. Jarang sekali pihak bank akan memberikan kelebihan sisa lelang rumah kepada nasabah.
Padahal sejatinya tidak boleh seorang pedagang melakukan perampasan kepada barang yang telah dijualkan walaupun secara kredit.

5. Adanya Pinalty (biaya tambahan) jika melunasi lebih cepat

Jika anda sebagai nasabah berniat mempercepat pelunasan cicilan rumah tersebut dikarenakan adanya kelebihan rezeki, maka anda sebagai nasabah akan dikenakan biaya tambahan atau pinalty. Pinalty atau denda ini dikarenakan “ketidakpatuhan” untuk membayar selama jangka waktu yang disepakati.
Memang terdengar rancu, tetapi hal tersebut merupakan fakta yang terjadi pada umumnya.

Lima hal tersebutlah yang menjadikan KPR Bank Konvensional terasa merugikan dari sisi nasabah. Sedangkan bagi pihak bank tidak akan pernah mau merugi. Perlu anda ketahui bahwa lima hal tersebut dapat dirasakan, baik secara logika, materi juga secara emosi. Belum lagi bila menyinggung masalah dosa riba yang tidak terkira besarnya. Naudzubillah..
Jadi setelah mengetahui informasi ini, masih mau KPR Konvensional?

Mari, sama-sama berhijrah untuk menghindari transaksi ribawi
LEBIH BAIK BERSABAR MENDAPATKAN RUMAH SYARIAH
Load disqus comments

0 komentar