Solusi bagi anda yang sudah terjerat riba

solusi bagi yang telah terikat riba, by indorumah syariah
Barangkali salah satu dari kita pernah melakukan transaksi ribawi, seperti hutang kepada teman atau saudara sebesar (misal) Rp. 100.000.000, kemudian anda sepakat dengan orang yang memberikan pinjaman tersebut bahwa Anda akan mengembalikannya dalam beberapa tahun mendatang. Anda pun ridho jikalau pada saat pengembalian nanti akan memberikan lebih dari nilai uang yang telah Anda pinjam tersebut, misalnya, Rp.120.000.000, sehingga ada tambahan sebanyak Rp. 20.000.000. Ketahuilah bahwa ini termasuk transaksi ribawi yang hukumnya haram. Jadi, cara tersebut tidak dibenarkan sekalipun Anda melakukannya dengan ridho atau saling rela, karena walaupun Anda ridha atau saling rela tetapi Allah dan RasulNya tidaklah ridlo.

Kaedah di atas berdasarkan Ibnu Sa’di dalam kitabnya “Al-Qawaid wal Ushul Al-Jamiah mengungkapkan, “Segala transaksi baik transaksi jual beli, transaksi sewa menyewa, investasi dan selain itu dimana para pelakunya sudah saling ridlo akan tetapi syariat islam melarangnya maka transaksi tersebut adalah transaksi haram.

kaidah diatas berdasarkan hadits:
كُلُّ شَرْطٍ خَالَفَ كِتَابَ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ
Semua persyaratan atau perjanjian yang tidak terdapat dalam hukum Allah adalah persyaratan yang batil.” (HR. Bukhari)
الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
“Kaum muslimin itu terikat dengan semua perjanjian yang mereka telah sepakati kecuali perjanjian yang menghalalkan apa yang haram atau mengharamkan apa yang halal.” (HR. Ath-Tahbrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir,no. 30)

Abu Sa’id mengatakan
جَاءَ بِلاَلٌ بِتَمْرٍ بَرْنِىٍّ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «مِنْ أَيْنَ هَذَا». فَقَالَ بِلاَلٌ تَمْرٌ كَانَ عِنْدَنَا رَدِىءٌ فَبِعْتُ مِنْهُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ لِمَطْعَمِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عِنْدَ ذَلِكَ «أَوَّهْ عَيْنُ الرِّبَا لاَ تَفْعَلْ وَلَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَشْتَرِىَ التَّمْرَ فَبِعْهُ بِبَيْعٍ آخَرَ ثُمَّ اشْتَرِ بِهِ».
Bilal pernah datang dengan membawa Kurma barni (salah satu jenis kurma yang bagus). kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, Dari manakah (kurma) ini? Maka Bilalpun menjawab, “Sebuah kurma yang jelek (kualitasnya) yang awalnya kami miliki, lalu kami menjual dua sha jenis kurma jelek tersebut dengan kurma yang bagus ini, untuk disuguhkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, (mendengar penuturannya tersebut) seketika itu pula beliau bersabda, Ini adalah riba senyatanya, janganlah engkau lakukan. Jika engkau ingin membeli kurma yang bagus ini maka juallah terlebih dahulu kurama yang jelek tersebut, kemudian hasilnya engkau gunakan untuk membeli kurma yang bagus tersebut.” (HR. Muslim, no. 4167)

(Baca Juga: Dosa-dosa riba)

Apakah objek yang ditransaksikan harus dikembalikan?? 
Ya. Kecuali jika objek yang diakadkan tidak mungkin dikembalikan, misalkan seseorang telah melakukan akad atau transaksi yang didalamnya terdapat riba, sedang dia tidak mengetahui akan hal itu, kemudian pada suatu saat dia mengetahui bahwa transaksi yang dia lakukan adalah transaksi yang mengandung riba,. kemudian orang yang berhutang tersebut menemui pihak yang memberikan pinjaman dan meminta kepada pihak pemberi hutang agar dia tidak perlu membayar bunga pinjaman utang namun pihak yang menghutangi menolak permintaan tersebut.
Dalam kondisi seperti ini kewajiban pihak yang berhutang adalah bertaubat kepada Allah dan berniat dengan bulat tidak akan mengulangi perbuatan dengan sistem riba.
Atau bagi yang telah melakukan KPR Ribawi dengan bank konvensional dapat menjual kembali rumah tersebut secara cash, BUKAN OVER KREDIT karena jika over kredit sama saja memindahkan transaksi riba kepada orang lain.

Referensi :
  1. AlQawaid wal Ushul AlJamiah, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
  2. Ta’liq AlQawaid wal Ushul AlJamiah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Load disqus comments

0 komentar