Akad dalam KPR rumah syariah

Akad KPR dengan menggunakan konsep rumah syariah

Akad Istishna

Akad yang digunakan dalam KPR Rumah Syariah secara kredit biasanya menggunakan akad istishna. Akad istishna merupakan akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan produk tertentu dengan kriteria serta Syarat-syarat tertentu. Perbedaan akad istishna dengan akad assalam dan murabbaha lebih ke kontrak pengadaan barang yang ditangguhkan dan dapat di bayarkan secara tangguh pula. 
Istishna menurut para fuqaha adalah pengembangan dari assalam, dan di izinkan secara syari’ah. Dalam akad istishna, seluruh spesifikasi akad yang di pesan harus jelas, jika produk yang di pesan adalah rumah, maka model rumah, type rumah dan luas rumah serta spesifikasinya harus jelas, misalnya menggunakan bata merah, kayu miranti, lantai granit ukuran 40×40, toiletries merk toto dan lain sebagainya, sehingga kemungkinan terjadinya sengketa dapat dihindari.

Harga serta cara pembayarannyapun tentu harus disepakati terlebih dahulu, apakah pembayaran secara cash, cash bertahap, dengan cicilan, atau ditangguhkan sampai batas waktu tertentu. Setelah harga dan cara pembayaran disepakati, maka selama masa akad harga tidak dapat berubah walaupun biaya produksi meningkat, sehingga penjualan harus memperhitungkan hal ini. 

Perubahan harga hanya diperbolehkan apabila terjadi perubahan spesifikasi atas barang yang dipesan.
Begitu akad disepakati, maka akan mengikat semua pihak yang bersepakat dan pada dasarnya tidak dapat dibatalkan, kecuali:
-        Kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya
-       Akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad 

Rukun dan Ketentuan Akad Istishna’ Rumah Syariah

Rukun istishna ada tiga, yaitu:
-          Pelaku (pemesan dan penjual)
-          Objek akad (dalam hal ini rumah syariah, serta harga)
-          Ijab qabul atau serah terima

Ketentuan syari’ah
-          Pelaku baik pemesan atau penjual harus cakap hukum dan balig
-          Objek akad (dalam hal ini rumah syariah)
 
Ketentuan Pembayaran Rumah Syariah
1.    Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat, demikian juga degan cara pembayarannya.
2.      Harga yang telah ditetapkan dalam akad tidak boleh berubah. Akan tetapi apabila setelah akad ditandatangani pembeli mengubah spesifikasi dalam akad maka penambahan biaya akibat perubahan ini menadi tanggung jawab pembeli
3.      Pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan
4.      Pembayaran tidak boleh berupa pembebasan hutang.

Ketetuan tentang barang (dalam hal ini rumah syariah)

1.      Barang pesanan harus jelas spesifikasinya (jenis, ukuran, mutu).
2.      Barang pesanan diserahkan kemudian
3.      Waktu dn penyerahan barang harus ditetapkan nberdasarkan kesepakatan
4.      Barang pesanan yang belum diterima tidak boleh dijual
5.      Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan
6.      Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepatan, pemesan pemilik hak       khiyar (hak memilik) untuk melanjutkan atau membatalkan akad
7.    Dalam hal pemesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat, tidak boleh dibatalkan sehingga penjual tidak dirugikan karena ia telah menjalankan kewajibannya sesssuai dengan kesepakatan

Ijab qabul
Adalah pernyataan ekpsresi saling ridha/rela diantara pihak pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, terttulis, melaui korespondensi atau menggunakan cara cara komunikasi modern
Akad istishna dapat berakhir berdasarkan kondisi kondisi berikut:
1. Dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah pihak,
2. Persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kotrak
3. Pembatalan hukum kontrak ini jika muncul sebab yang masuk akal untuk mencegah dilaksanakannya kontrak atau penyelesaiannya, dan masing masing pihak bisa menuntut pembatalannya.

Bagaimana tertarik dengan rumah syariah?
Load disqus comments

0 komentar